Monday, December 21, 2009

Hiks... Hiks ....Hiks

Empat tahun yang lalu, tepatnya pada saat aku mendaftar sebagai siswi di salah satu SMP Favorit di Kecamatan Kebakkramat. Aku hampir aja gagal masuk kesana, bukan karena nilai ujianku yang tak mencukupi ataupun karena hasil test yang menyatakan aku nggak diterima di SMP itu. Tapi karena kebodohanku, karena kecerobohanku. Riwayat keluarga besarku sebagian besar doeloe mereka bersekolah di SMP itu, apalagi kakakku yg waktu itu sedang duduk di kelas 3 SMP juga bersekolah disana. Mulai dari Ibukku, bulikku, Kakak keponakanku, dan kakak kandungku semua pernah mengenyam pendidikan di SMP itu. Aduhhh... capek aku bilang "SMP itu". SMP itu (kok ngomong itu lagi?) SMP Negeri 1 Kebakkramat.

Karena itulah muncul obsesiku untuk masuk SMP Negeri 1 Kebakkramat. Tahun pada saat aku lulus SD adalah tahun pertama diadakannya UAN (Ujian Akhir Nasional). Sempat takut nggak lulus juga sich. Aku nggak akan cerita gimana ujian itu. Yang jelas ujian itu berlangsung wajar-wajar aja dan lancar-lancar aja. Dan bukan bermaksud sombong atau apa saat lulusan aku mendapat penghargaan karena nilai ujianku tertinggi diantara teman-temanku, dan nilai raport juga Alhamdulillah.

Setelah lulusan, beberapa hari kemudian aku daftar ke SMP Negeri Kebakkramat ditemanin Ibuk tercinta tentunya. Disana hanya mengumpulkan SKHU karena Ijazah belum terbit, turun maksudnya. Juga mengumpulkan AKTA KELAHIRAN dan KK. Dapet dech tu nomor Ujian dan aku dapet nomor '246' banyak banget ya? Maklum daftarku hari terakhir. Ujian masih lama diadakan, aku manfaatin waktu buat baca-baca materi yang udah maw lepas dari kepala karena liburan yang terlalu lama. Walau nilaiku yaa nggak jelek2 banget, tapi kok rasanya pesimis banget bisa masuk SMP itu.Apalagi kakakku malah nakut2in aku "Lha... nggak ketompo lhe", buat aku jadi tambah pesimis. Setres berat....

Hari Ujian tiba
Soal 100 obyektif semua,harus selesai selama 2jam. Soal2 terbagi menjadi mapel2 yang diujikan, seperti Bahasa Indonesia,Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris. Soal Matematika aku kerjakan duluan. Tahap pertama lancar-lancar saja ^_^. Soal-soal aku kerjakan dari yang mudah dulu. Sekitar ada 20 soal yang jawabannya aku masih ragu-ragu. Mau kerjasama satu ruangan nggak ada yang aku kenal. Aku cuma kenal 1 anak saja, yang sekarang menjadi teman satu kelasku saat kelas 2 SMA. Dari SDku yang daftar di SMP Negeri 1 Kebakkramat hanya 2 anak, aku dan Nova. Kita berbeda ruangan. Jidatku mulai panas. Inspirasi nggak dapet-dapet, Allah juga belum menurunkan ilhamnya kepadaku. Aku ingat banget soal yang nggak bisa aku jawab itu tentang APBD, ya wajar aja aku nggak bisa, waktu SD lom diajarin sich. Aku pun terpaksa ngawur jawaban.St......Stt.... Sttt (dengan iringan basmalah, semoga jawabanku benar). Akhirnya selesai juga. HUFT. Bel selesai berbunyi dan akupun pulang.

Penantian aku isi dengan sholat tahajjud,aku berdo'a semoga aku diterima di SMP Negeri 1 Kebakkramat. Ibuk juga senantiasa mendo'akan.

TIBALAH HARI PENGUMUMAN
Seluruh peserta diminta memasuki ruangan-ruangan yang telah ditentukan oleh panitia. Aku duduk di deretan nomor 3. Panitia membagikan lembaran dan berkata "Apabila nomor pendaftaran anda tidak ada di daftar tersebut, maka anda tidak diterima disekolah ini". Ibukku menunggu diluar. Diluar sudah tertempeli pengumuman siapa-sipa yang diterima. Aku yakin saat itu Ibukku sedang berjuang keras berdesak-desakan dengan orang tua lain untuk melihat apakah nomor pendaftaranku ada disana. Diluar ramai sekali. Didalam malah sepi karena akan tiba masa eksekusi.

Akhirnya daftarpun dibagikan,aku mencari-cari nomor pendafataranku '246'. Putaran pertama tak aku temukan. Lalu aku ulangi lagi sampai 3 kali, dan nomorku tak aku temukan. Hiks....Hiks.... Hiks..... mataku berkaca-kaca mendapati diriku yang tak diterima di SMP Negeri 1 Kebakkramat, SMP yang sudah lama aku dambakan. Aku nyaris tak percaya. Aku merasa sendiri, semua teman baruku menemukan nomornya. Aku pun menyerah. Pasrah. Inilah takdir hidupku.

Ibuku mendekatiku, tak ada gurat kesedihan diwajahnya. Akupun merasa heran, apa Ibuk belum tahu kalau aku tak diterima?. Ibuk bertanya kepadaku "Piye nduk, ketompo ora?". Aku tak kuat rasanya menjawab pertanyaan Ibukku. Tapi aku mencoba menjawab walau dengan bibir yang udah bergetar dan mata yang berkaca-kaca, "Nggak Bue". Ibuk pun dengan lantang, spontan, mantap berkata kepadaku dan membuatku kaget bukan kepalang "Lha iki pora nomormu Nduk?(sambil menunjuk nomor '246'di naskah)". Subhanallah... ternyata nomorku tertulis disana. Aku diterima. Aku sekarang siswi SMP Negeri 1 Kebakkramat. Ya Allah rasanya seperti mimpi.

Hehehe semuanya ikhtiyarku ternyata nggak sia-sia. Allah menjawab semuanya. Walau harus ada insiden kecil yaitu kekurang telitianku mencari nomor pendaftaranku. Aku juga harus menanggung malu karena mataku udah berkaca-kaca menahan tangis tak diterima. Buat Ibukku makacihhhhhh buanget,kalau Ibuk nggak nyariin nomorku aku pasti udah nyabut pendaftaranku dan nyari SMP lain. Ibuk,aku sayang banget ma Ibuk.
Love you Mom.